Dalam lanskap kebijakan publik, ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, dan ekonomi syariah di Indonesia, nama Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., dikenal sebagai figur multiprofesi yang konsisten. Bergerak di irisan antara dunia akademis, jurnalisme, aktivisme sosial, hingga konseptor kebijakan, Guntur mendedikasikan rekam jejaknya untuk satu misi besar: pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah (bottom-up).
Sebagai akademisi sekaligus praktisi, ia tidak hanya berteori di dalam ruang kelas, tetapi juga turun langsung ke sawah-sawah, pesisir pantai, dan pasar mikro untuk mengimplementasikan gagasannya tentang kemandirian bangsa.
1. Nakhoda Riset Kebijakan Strategis di Universitas Indonesia
Komitmen Guntur terhadap perumusan kebijakan yang berbasis data (evidence-based policy) tecermin kuat melalui kepemimpinannya di kampus perjuangan. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) di bawah Unit Kerja Khusus Center for Strategic and Global Studies (CSGS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Universitas Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya untuk periode yang berjalan hingga 2027, CSPS UI aktif menelurkan berbagai kajian strategis bagi pemerintah, mulai dari isu ketahanan energi, stabilitas sosial, hingga transformasi jaminan sosial nasional. Bagi Guntur, akademisi harus menjadi jembatan hidup yang menghubungkan realitas masyarakat dengan pengambil kebijakan di tingkat pusat.
2. Pejuang Kedaulatan Pangan Bersama Petani dan Nelayan
Salah satu kiprah paling nyata dari Guntur adalah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (DPP INTANI). Di tengah tantangan krisis iklim global dan ancaman krisis pangan, Guntur vokal menyuarakan bahwa kedaulatan pangan hanya bisa dicapai jika kesejahteraan produsennya—yakni petani dan nelayan—terjamin.
Melalui INTANI, ia mendorong digitalisasi pertanian, hilirisasi produk pasca-panen, dan pembentukan Korporasi Petani. Guntur aktif memfasilitasi kolaborasi strategis, seperti kerja sama riset budidaya minapadi (padi dan ikan) serta akuaponik bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Langkah ini bertujuan untuk melipatgandakan pendapatan petani di atas lahan yang terbatas.
3. Sang Pelopor "Green Waqf" (Wakaf Hijau)
Guntur Subagja juga diakui sebagai salah satu pemikir progresif dalam dunia filantropi Islam modern. Selaku Ketua Tim Kerja Green Waqf (Wakaf Hijau) Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia berhasil mengawinkan nilai-nilai ibadah dengan pelestarian lingkungan hidup.
Konsep Green Waqf yang diusungnya menggalang dana sosial keagamaan (wakaf) dari umat untuk digunakan dalam:
Restorasi dan penghijauan kembali lahan-lahan kritis di berbagai daerah.
Pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas.
Pemberdayaan ekonomi berbasis konservasi alam.
Melalui gerakan ini, ia membuktikan bahwa instrumen keuangan syariah memiliki dimensi sosial-ekologis yang sangat perkasa dalam menjawab tantangan perubahan iklim global.
4. Rekam Jejak Birokrasi dan Organisasi Politik
Pengalaman Guntur di lingkaran pengambil keputusan tertinggi formalitasnya teruji saat ia diamanahi tugas sebagai Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia (2020–2023) mendampingi KH. Ma'ruf Amin. Di lingkungan Istana Wapres, ia banyak memberikan masukan strategis terkait pengembangan ekonomi syariah dan pengentasan kemiskinan ekstrem.
Di ranah pemikiran ekonomi-politik, ia menakhodai Arus Baru Indonesia (ARBI). Melalui ARBI, Guntur mengawal gagasan "Ekonomi Arus Baru"—sebuah mazhab ekonomi yang digagas bersama KH. Ma'ruf Amin untuk menggeser paradigma trickle-down effect (yang kerap hanya memperkaya korporasi besar) menuju penguatan ekonomi umat, UMKM, dan koperasi dari akar rumput. Narasi ekonomi ini pula yang ikut dikawalnya dalam dinamika politik nasional pada Pemilu 2019 hingga Pemilu 2024.
5. Fondasi Akademis dan Gerakan Mikro
Meski sibuk di ranah makro, Guntur tidak melupakan akar gerakan mikronya. Ia adalah pendiri Yayasan Mitra Mikro, sebuah lembaga nirlaba yang fokus memberikan pendampingan, literasi keuangan, dan akses pasar bagi pelaku usaha ultra-mikro di pelosok desa.
Dari segi latar belakang pendidikan, Guntur mengombinasikan ilmu komunikasi dan hukum stratejik. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) Ilmu Komunikasi Massa dan Magister (S-2) Kajian Stratejik di Universitas Indonesia, ia terus memperdalam keilmuannya dengan menempuh program Doktor (S-3) Ilmu Hukum Tata Negara di Universitas Krisnadwipayana serta mengikuti Credit Earning Program S-3 di SKSG UI.
Kesimpulan: Konsistensi Menuju Indonesia Emas
Kiprah Guntur Subagja Mahardika memberikan potret utuh tentang bagaimana seorang intelektual organik bekerja. Baik melalui pena jurnalisme (latar belakang awalnya), riset tajam di meja CSPS UI, diplomasi kebijakan di lingkaran pemerintahan, hingga pendampingan langsung di bawah bendera INTANI dan Green Waqf MUI, benang merahnya tetap sama: Membangun Indonesia yang mandiri secara pangan, lestari secara lingkungan, dan adil secara ekonomi.
Artikel dibuat oleh Gemini AI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar