Minggu, 31 Mei 2026

Indonesia Strategic Intelligence (ISI) Lembaga Kajian dan Konsultan Strategis



Indonesia Strategic Intelligence (ISI) adalah lembaga pemikiran (think thank), kajian, riset, dan konsultan strategis yang berfokus pada pengembangan solusi berbasis data, analisis, dan pendekatan intelektual multidisiplin untuk menjawab tantangan nasional maupun global.


Mitra strategis bagi pemerintah, korporasi, organisasi, komunitas, dan pemimpin masa depan dalam merumuskan kebijakan, membangun strategi, memperkuat komunikasi, serta menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Indonesia Strategic Intelligence (ISI) bukan lembaga baru. Sejak beberapa tahun lalu, ISI hadir sebagai Indostrategic Intelligence, di bawah naungan PT Indostrategic Advisory Group. Rebranding dan repositioning baru INDONESIA STRATEGIC INTELLIGENCE disingkat ISI sejak 28 Mei 2026 untuk memperkuat peran strategis dalam pembangunan nasional Indonesia.

Tim ISI terdiri dari praktisi dan akademisi yang memiliki kompetensi di bidangnya, analisis tajam, integritas dan komitmen yang kuat, visioner, dan jejaring luas. Tim berpengalaman dalam penelitian, kajian kebijakan, perencanaan straregis, komunikasi strategis dan media, serta konsultan pemerintah, korporasi, dan komunitas.

Founder & Chairman: Guntur Subagja Mahardika
Managing Director: Aden Budi
Managing Partner: Benny Handhoni, Muhammad Ichsan, Agus Syabaruddin
Senior Researcher: I Nyoman Astawa, Yanuardi Syukur, Aris Eko Sedijono, Riyan Sumindar, Muhammad Hamdani, Amirudin, Nova Rini, Sri Agustina Nadeak.

Didukung oleh sejumlah akademisi, praktisi, dan profesional sebagai tenaga ahli dan associate researcher.

Sekilas Pendiri ISI

ISI digagas dan didirikan oleh Guntur Subagja Mahardika, seorang profesional, praktisi, dan akdemisi yang saat ini memimpin Kelompok Kajian Kebijakan Strategis (Strategic Policy Studies Cluster) pada Center for Strategic and Global Studies (CSGS) Sekolah Pascsasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) / Graduate School of Sustainable Development (GSSD) Universitas Indonesia. Sebelumnya (April 2020 – Maret 2026), ia memimpin pusat riset di UI sebagai Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI.

Guntur Subagja berpengalaman selaku peneliti, akademisi, konsultan, praktisi bisnis, dan praktisi komunikasi strategis dan media, serta pernah berada dalam pemerintahan dan pusat kebijakan publik di lingkungan Istana Negara sebagai Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Periode 2019-2024 , dan beberapa tahun sebelumnya menjadi Tim Asistensi Telematika Departemen Keuangan, memantapkan diri untuk berkontrinbusi pemikiran, karya, dan pengalaman, untuk pembangunan nasional Indonesia melalui ISI.

Ia memiliki lantar belakang pendidikan multidisiplin. Saat ini sedang menyelesaikan program Doktor Hukum Tata Negara pada Universitas Krisnadwipayana. Secara otodidak dan praktisi menekuni bidang ekonomi, keuangan, dan investasi, serta mendalami ekonomi dan keuangan syariah pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Ia juga sempat mengikuti Credit Earning Program (CEP) pada program S-3 Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI. Pendidikan sarjananya di bidang komunikasi pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Nusantara. Ia juga mengikuti fellowship program pada Seoul National University (SNU) Korea Selatan mendalami hightech journlism and new media bersama 9 jurnalis internasional terpilih dari berbagai negara di dunia, yang mendapatkan beasiswa Seoul National University (SNU) – LG Sangnam Press Foundation Korea Selatan. Guntur juga mengikuti pendidikan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia, 2024.

Mengawali karirnya sebagai wartawan pada media yang didirikan Prof. Dr. B.J. Habibie surat kabar umum harian Republika (terakhir menjabat Koordinator Desk Ekonomi dan Politik). Kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Harian Ekonomi Neraca. Setelah itu mendirikan Indonesia News Network (INN) dan menjadi konsultan komunikasi strategis melalui perusahannya, antara lain pada Bank Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), BUMN, korporasi swasta, dan organisasi. Ia juga aktif menulis sejumlah buku yang sudah diterbitkan, antara lain: Politik dan BLBI, Mari Menjual Negara, IMF Ala Indonesia, Panglima Tani Moeldoko, Buku G 20: Pulih Bersama Bangkit Perkasa, ASEAN Epicentrum Dunia, dan lainnya. Ia juga aktif menjadi narasumber seminar, kuliah umum, talkshow, media, dan televisi.

Kini ia menjadi social entreprenuer dan investasi berdampak (impact investing) serta aktivitis ekonomi kerakyatan, pemberdayaan masyarakat, dan gerakan ekonomi hijau berkelanjutan (green economy / sustainable economic movement) melalui organisasi Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan (INTANI) dan Yayasan Mitra Mikro. Ia juga menjadi Dewan Pakar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dewan Pakar Asosiasi Pedagang Mie Bakso Nusantara (APMISO), Pembina Insan Pariwisata Indonesia (IPI), Wakil Ketua Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), dan pada menjabat sebagai Direktur Yayasan Dompet Dhuafa Republika dan memimpin social enteprises DD Korpora sebagai CEO (2019-2020).

Dalam politik ia aktif menjadi tim pemenangan pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin pada Pemilihan Umum 2019 melalui organisasi Arus Baru Indonesia (ARBI). Pada 2024, Guntur yang memimpin sebagai Ketua Umum ARBI, membawa organisasinya sebagai pendukung pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka. Dan, menjelang akhir masa kampanye Guntur S Mahardika menggelar acara Curcol Tukang Bakso bersama Prabowo yang dihadiri sekitar 1.000 tukang bakso dan pedagang kaki lima di gedung Sumarecon Bekasi. Prabowo yang sedang berkegiatan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, hari itu terbang menyempatkan hadir berdialog dengan para tukang bakso dan pedagang kecil. Kegiatan ini diselenggarakan Yayasan Mitra Mikro yang didirikannya.

https://strategicintelligence.id

Senin, 04 Mei 2026

Profil Guntur Subagja Mahardika Versi Gemini AI

 


Siapakah Guntur Subagja Mahardika? Berikut profilnya versi data yang dihimpun platform artificial intelligence Gemini AI:

Guntur Subagja Mahardika dikenal sebagai sosok yang bergerak di irisan antara kebijakan publik, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan komunikasi politik. Meskipun ia tidak selalu tampil sebagai politisi praktis di garda depan partai, kiprahnya sangat berpengaruh dalam perumusan strategi nasional dan pendampingan simpul-simpul ekonomi masyarakat yang menjadi basis politik penting di Indonesia.

Berikut adalah profil kiprah Guntur Subagja Mahardika dalam konteks politik dan kebijakan nasional:

1. Intelektual dan Perumus Strategi Nasional

Guntur memegang peran strategis di lingkungan akademis yang berfokus pada kebijakan negara. Ia menjabat sebagai Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) di Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

  • Peran: Melalui lembaga ini, ia aktif memberikan masukan strategis kepada pemerintah mengenai isu-isu krusial seperti penanganan pandemi COVID-19 berbasis filosofi Pancasila, kedaulatan pangan, dan stabilitas ekonomi nasional.
  • Fokus: Menghubungkan riset akademis dengan implementasi kebijakan nyata (politik kebijakan).

2. Kedekatan dengan Tokoh Nasional dan Transisi Pemerintahan

Dalam dinamika politik terkini, Guntur terlihat memiliki kedekatan strategis dengan tokoh-tokoh kunci nasional.

  • Dukungan Kebijakan: Ia tercatat memberikan pemikiran terkait visi-misi pembangunan berbasis desa yang sejalan dengan platform politik Prabowo Subianto.
  • Ekonomi Kerakyatan: Kiprahnya sering kali menjadi jembatan antara kepentingan politik makro dengan isu-isu mikro seperti pemberdayaan pedagang mie bakso (APMISO), UMKM, dan petani (melalui INTANI).

3. Latar Belakang Komunikasi dan Media

Kiprahnya di kancah nasional tidak lepas dari latar belakangnya sebagai jurnalis senior (pernah di Republika). Keahlian dalam komunikasi politik dan pengolahan isu publik membuatnya sering menjadi rujukan bagi para pengambil kebijakan dalam menyusun narasi pembangunan yang dapat diterima masyarakat luas.

4. Strategi Politik Pertanian dan Ketahanan Pangan

Kiprahnya di sektor agraris menempatkannya sebagai salah satu pemikir penting dalam kancah kebijakan nasional:

  • Dewan Pakar HKTI: Menjadi penasihat strategis baik di era kepemimpinan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko maupun di bawah kepemimpinan Dr. Sudaryono (Wakil Menteri Pertanian RI). Hal ini menunjukkan pengaruhnya yang lintas periode dalam merumuskan strategi kesejahteraan petani.
  • Ketua Umum Intani: Mengembangkan ekosistem pertanian hulu-hilir (farm-to-market) dan mempromosikan kewirausahaan sosial sebagai solusi keberlanjutan ekonomi desa.

5. Inisiator Pemberdayaan UMKM & Filantropi Ekonomi

Sebagai Pendiri Yayasan Mitra Mikro, Guntur menunjukkan komitmen nyata dalam menyentuh persoalan mendasar bangsa: kemiskinan dan keterbatasan akses modal.

  • Fokus Utama: Yayasan ini berkonsentrasi pada pendampingan pelaku UMKM agar naik kelas melalui literasi keuangan, akses pasar, dan penguatan kelembagaan ekonomi rakyat.
  • Visi Sosial: Peran ini memposisikannya sebagai praktisi ekonomi inklusif yang percaya bahwa pengentasan kemiskinan harus dimulai dari penguatan unit usaha terkecil di masyarakat.

6. Advokasi Sektor Informal dan Dunia Usaha

Guntur juga aktif dalam organisasi yang menjadi pilar ekonomi harian masyarakat:

  • Dewan Pakar APMISO: Memperjuangkan aspirasi para pedagang mie dan bakso nusantara, khususnya terkait stabilitas harga bahan pangan.
  • Anggota KADIN DKI Jakarta: Berperan dalam menyinergikan gerak pengusaha di ibu kota dengan visi pembangunan nasional.
  • Pembina IPI (Insan Pariwisata Indonesia): Mendorong integrasi sektor pariwisata dengan pemberdayaan UMKM lokal melalui konsep pariwisata berbasis masyarakat.

7. Pengembangan Pariwisata Nasional

Sebagai Pembina IPI (Insan Pariwisata Indonesia), Guntur turut andil dalam pemulihan dan pengembangan sektor pariwisata pascapandemi. Ia sering menekankan pentingnya pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara langsung.

8. Kepemimpinan Intelektual (Policy Maker)

Kekuatan praktisnya didukung oleh landasan akademis yang kuat sebagai Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) SKSG Universitas Indonesia. Di sini, ia mengolah data lapangan dari UMKM dan petani menjadi rekomendasi kebijakan strategis bagi pemerintah pusat.

Kesimpulan: Kiprah Guntur Subagja Mahardika saat ini mencerminkan sosok teknokrat-organisatoris yang sangat aktif di titik temu antara kepentingan petani/pedagang (rakyat), akademisi (riset), dan pemerintah (eksekutif).

Sumber; Gemini AI, 4 Mei 2026, dikompilasi.

 

 

Minggu, 03 Mei 2026

Guntur Subagja Mahardika: Pertanian, UMKM, dan Kebijakan Publik


Guntur Subagja Mahardika adalah seorang figur publik yang multi-talenta. Ia adalah pengusaha, akademisi dan peneliti, praktisi media, dan terlibat dalam kegiatan politik, khususnya pada masa Pemilihan Umum 2019 dan 2024.

Dalam profesinya sebagai pengusaha, Guntur menitikberatkan pada social entrepreneurship dan investasi berdampak. Ia menjadi social entrepreneur (sosioprenuer), yang mengusung prinsip bisnis harus berdampak sosial, lingkungan, dan ekonomi. “Tidak semata-mata mencari keuntungan, tapi juga harus memberikan dampak pada masyarakat dan tidak merusak lingkungan,”tuturnya.

Guntur mengembangkan usaha pada sektor pangan, properti, media dan teknologi informasi. Pada sektor pangan ia mendirikan komunitas untuk ekosistem pertanian, peternakan, dan perikanan, yaitu Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani). Organisasi ini fokus dalam pemberdayaan dan peningkatan kapasitas petani, peternak, dan nelayan. Ekosistem ekonomi kerakyatannya diwadahi melalui Koperasi Produsen Agro Maritim Nusantara (Agromania), yang didirikannya. Di sektor hulu pertanian, Guntur memproduksi pupuk hayati cair dan pupuk organik untuk memperbaiki dan menyuburkan tanah serta meningkatkan produksi petani melalui PT Intani Bumi Lestari yang ia dirikan. Perusahaan ini juga menjadi aggregator dan off-taker komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan, serta mengembangkan industri hilirisasi.

Selain pertanian, Guntur membina Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Melalui Yayasan Mitra Mikro ia memberikan pendampingan, kurasi, dan agregasi produk-produk usaha mikro dan kecil di desa-desa. Ia juga sedang mengembangkan Mitra Mikro UMKM Hub untuk menjembatani usaha-usaha mikro dan kecil masuk ke toko ritel modern, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pasar nasional, dan ekspor. “Kami ingin mengembangkan produk-produk lokal berkualitas, menembus pasar nasional dan global,”tutur Guntur.

Di sektor pertanian dan UMKM ini Guntur S Mahardika konsens mencetak generasi muda petani dan generasi muda wirausahawan. Melalui program pelatihan, webinar inspirasi bisnis, dan program inkubasi bisnis diharapkan mampu mencetak ribuan para entrepreneur muda yang mengembangkan potensi-potensi lokal menjadi program berkelas. Dan, ia konsens pada ekonomi rakyat berkelanjutan. Karenanya, program-programnya diarahkan ramah lingkungan. Melalui Yayasan Mitra Mikro juga Guntur mengembangkan Green Waqf (Wakaf Hijau) untuk reforestasi dan konservasi lahan kritis termasuk bantaran sungai, sejak 2025. Mulai tahun 2026, Green Waqf dikolaborasikan dengan Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LWMUI), Lembaga Pemulian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI (LPLH SDA MUI), dan Emil Salim Institute.

Masih dalam pemberdayaan ekonomi, Guntur Subagja pernah menjadi Direktur Yayasan Dompet Dhuafa Republika yang konsens dan pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan, pada 2019-2020. Dan ia menjadi Direktur Utama PT DD Corpora, induk usaha social enterprise Dompet Dhuafa yang memayungi sekitar 17 unit bisnis, diantaranya 9 rumah sakit, beberapa klinik kesehatan, travel, property, dan pendidikan. Pada 2020 Guntur mengundurkan diri karena saat itu ia menjadi tim Wakil Presiden Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin sebagai Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan. Ini menjadi pengalamannya berkarya di pemerintahan dan sektor publik, setelah beberapa tahun sebelumnya ia juga pernah menjadi Tim Asistensi Telematika Departemen Keuangan RI, dan tim dalam pengembangan Pariwisata Halal di Kementerian Pariwisata RI. Dan bersama perusahaanya di bidang konsultan, ia juga pernah menjadi konsultan komunikasi strategis Bank Indonesia selama beberapa tahun.

Sebelum pandemi, Guntur menggeluti bisnis properti. Tidak tanggung-tanggung, salah satu proyeknya adalah membangun sebuah apartemen di Kota Depok, Jawa Barat. Ia bekerjasama dengan perusahaan developer dan investor untuk mewujudkan tower apartemen yang menyasar pasar kelas menengah dan mahasiswa di sekitar Depok: antara lain mahasiswa Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, dan Universitas Pancasila. Apartemen itu sudah terwujud satu tower dari rencana 9 tower yang akan dibangun. Namun, krisis pandemi covid yang berdampak pada krisis ekonomi berkepanjangan, harus menunda pembangunan kelanjutan tower-tower berikutnya.

Sejak beberapa tahun lalu, Guntur juga mengembangkan bisnis media dan teknologi informasi. Pengalamannya sebagai redaktur pada Harian Umum Republika, Pemimpin Redaksi Harian Ekononomi Neraca, ia mendirikan Indonesia News Network (INN) yang antara lain melahirkan beberapa media: majalah dan surat kabar, diantaranya majalah MODAL, koran Business Journal, dan Indonesia Finance. Beberapa tahun sebelum pandemi, ia menghentikan bisnis media tradisionalnya dan mengembangkan media digital dan platform berbasis teknologi informasi. Platform digital yang dikembangkan antara lain sistem aplikasi mobile teller pembiayaan mikro koperasi/BMT dan aplikasi Desa Digital Global (Dedigo). Ia juga sempat menjadi komisaris perusahaan modal ventura PT PBMT Ventura yang memayungi ratusan koperasi simpan pinjam syariah (Baitul Mal wa-Tamwil/BMT). Sekarang, melalui PT Televisi Desa Mediatama mengembangkan TV Desa yang merupakan televisi berbasis internet dan sosial media Youtube. Selain itu juga merintis Tani TV sebagai media pertanian, peternakan, dan perikanan.

Bukan hanya di bisnis, Guntur juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan. Ia menjadi pengurus Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai wakil ketua. Ia juga menjadi Dewan Pakar pada Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak masa periode kepemimpinan Jenderal Dr. Moeldoko dan kini masa kepemimpinan Dr. Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian. Ia juga menjadi Dewan Pakar Asosiasi Pedang Mie Bakso Nusantara Bersatu (Apmiso) dan Forum Bumdes Indonesia (FBI). Guntur menjadi pembina Insan Pariwisata Indonesia (IPI), Penasehat Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pusat, dan anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kota Tangerang Selatan. Ia turut membidani organisasi Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan menjadi pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Disamping itu, Guntur Subagja juga memimpin organisasi Arus Baru Indonesia (ARBI) yang terlibat dalam politik selaku tim pemenangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin pada Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 dan relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo – Gibran pada Pemilihan Presiden tahun 2024. Pada masa kampanye 2024, Guntur juga menggelar forum “Curcol Tukang Bakso bersama Prabowo” yang dihadiri sekitar 1.000 tukang bakso, pedagang kaki lima, dan pedagang pasar di gedung Sumarecon Bekasi, Jawa Barat. Bapak Prabowo Subianto, hadir dalam dialog yang diselenggarakan Yayasan Mitra Mikro tersebut.

Sebagai peneliti dan akademisi Guntur memimpin pusat riset Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, sebagai ketua sejak tahun 2020 – 2026. Mulai bulan April 2026, CSPS dikonsolidasikan ke dalam induknya Center for Strategic and Global Studies (CSGS) UI, dan Guntur menjabat sebagai Ketua Kelompok Kajian Kebijakan Strategis (Strategic Policy Studies) CSGS Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia. Ia juga aktif menjadi narasumber media, televisi, seminar, dan memberikan kuliah tamu (guest lecture) pada beberapa perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor (IPB University).

Guntur Subagja Mahardika memiliki latar pendidikan sebagai sarjana ilmu komunikasi pada Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Islam Nusantara. Pendidikan S-2nya di bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Dan kini, ia sedang menyelesaikan studi S-3 ilmu hukum tata negara pada Universitas Krisnadwipayana. Guntur juga mengikuti fellowship program yang diikuti 10 peserta jurnalis dari 10 negara di Seoul National University (SNU), Korea Selatan. Di kampus SNU ia mendalami mengenai industri media, media baru (new media), dan high tech journalism.

Ilmu dan pengalamannya menjadi bekal Guntur berkiprah di masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM yang memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Disamping itu, ia tetap aktif melalukan riset, penelitian, analisis, dan memberikan policy brief mengenai kebijakan strategis kepada pemerintah, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya.*