Rabu, 13 Oktober 2010

Telah Lahir, Portal Internet INN Mobile



Telah Lahir, Portal Internet INN Mobile
Selasa, 12 Oktober 2010, 18:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Indonesia News Network (INN) bekerja sama dengan Kantor Berita ANTARA menghadirkan layanan mobile media portal atau portal media bergerak bernama "INN Mobile".

Managing Director GMN Corporation, Guntur Subagja Mahardika dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, mengatakan, dengan layanan portal media bergerak itu maka para pemilik telepon genggam mudah mengakses informasi yang lebih variatif.

Ia menjelaskan, melalui alamat web: www.IndonesiaNewsNetwork.com dari "handphone" atau PDA, pengguna dapat memperoleh layanan informasi beragam, mulai dari informasi berita terkini, artikel, ekonomi, olahraga, gaya hidup, lingkungan hidup, hiburan, hingga pendidikan.

Menurut Guntur, INN Mobile mengklasifikasikan berita dan informasi dalam kanal-kanal tersendiri sehingga pengguna dapat dengan mudah memilih informasi sesuai dengan minatnya.

Kanal-kanal tersebut tampil di dalam halaman depan (home page) INN Mobile. Tampilan format mobile disesuaikan dengan layar handphone sehingga memudahkan pengguna dalam membaca.

"Kami bekerja sama dengan Antara, dimana kami mengembangkan aplikasi dan platform mobile media, sementara Antara sebagai content partner," katanya.

Ia mengatakan, selain Antara yang merupakan pelopor content partner, pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa media lainnya, salah satunya yang sudah menyepakati secara prinsip adalah Republika Online.

"Konsep kami adalah dalam INN Mobile akan hadir banyak media sehingga memudahkan pengguna untuk memilih media yang diminatinya, baik media nasional maupun lokal," kata Guntur Subagja.

Red: Siwi Tri Puji B
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/10/10/12/139765-telah-lahir-portal-mobile-inn-mobile

INN dan ANTARA Hadirkan "INN Mobile"

INN dan ANTARA Hadirkan "INN Mobile"
Selasa, 12 Oktober 2010 18:29 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis | Dibaca 432 kali

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia News Network (INN) bekerja sama dengan Kantor Berita ANTARA menghadirkan layanan "mobile media portal" atau portal media bergerak bernama "INN Mobile".

Managing Director GMN Corporation, Guntur Subagja Mahardika dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, mengatakan, dengan layanan portal media bergerak itu maka para pemilik telepon genggam mudah mengakses informasi yang lebih variatif.

Ia menjelaskan, melalui alamat web: www.IndonesiaNewsNetwork.com dari "handphone" atau PDA, pengguna dapat memperoleh layanan informasi beragam, mulai dari informasi berita terkini, artikel, ekonomi, olahraga, gaya hidup, lingkungan hidup, hiburan, hingga pendidikan.

Menurut Guntur, INN Mobile mengklasifikasikan berita dan informasi dalam kanal-kanal tersendiri sehingga pengguna dapat dengan mudah memilih informasi sesuai dengan minatnya.

Kanal-kanal tersebut tampil di dalam halaman depan (home page) INN Mobile. Tampilan format mobile disesuaikan dengan layar handphone sehingga memudahkan pengguna dalam membaca.

"Kami bekerja sama dengan ANTARA, dimana kami mengembangkan aplikasi dan platform mobile media, sementara ANTARA sebagai content partner," katanya.

Ia mengatakan, selain ANTARA yang merupakan pelopor content partner, pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa media lainnya, salah satunya yang sudah menyepakati secara prinsip adalah Republika Online.

"Konsep kami adalah dalam INN Mobile akan hadir banyak media sehingga memudahkan pengguna untuk memilih media yang diminatinya, baik media nasional maupun lokal," kata Guntur Subagja.

Portal media bergerak ini dapat memberikan nilai tambah bagi media-media cetak atau lainnya seiring dengan terus meningkatnya pengguna handphone di Indonesia.

Saat ini pengguna telepon seluler diperkirakan sebesar 140 juta pelanggan. Dari sejumlah itu, sekitar 25 persen diantaranya sudah memanfaatkan handphone sebagai sarana online berbasis internet.

Mobile media merupakan media baru yang akan menjadi pilihan masyarakat karena kemudahan dalam mengakses. Masyarakat saat ini memanfaatkan handphone untuk apa saja karena kemudahannya dan sudah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari masyarakat.
(CS/B010)

COPYRIGHT © 2010

http://www.antaranews.com/berita/1286882962/inn-dan-antara-hadirkan-inn-mobile

Sabtu, 25 September 2010

Senin, 06 September 2010

Jimmy Carter dan Diplomasi Indonesia - Malaysia

Jimmy Carter mengacungkan jempolnya setiba di Bandara Internasional Logan, Boston, AS, Jumat (27/8/2010) lalu. Mantan Presiden AS itu baru saja selesai menjalankan misinya di Korea Utara, negeri yang menjadi “musuh utama” AS. Ia sukses membebaskan warga AS, Aijalon Mahli Gomes, yang ditahan pemerintah Korea Utara sejak beberapa bulan lalu karena memasuki Negara itu secara ilegal.

Carter membawa kembali Gomes yang dihukum kerja paksa selama delapan tahun dan denda. Di Pyongyang, politisi senior Partai Demokrat itu diterima pemimpin nomor dua Korea Utara, Kim Yong Nam. Beberapa saat kemudian Gomes memperoleh pengampunan (amnesti) dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il. Gomes boleh pulang bersama Carter.

Meski misi pemenang Nobel Perdamaian itu disebutnya sebagai misi pribadi, tapi pemerintah dan warga AS menyambutnya luar biasa. Selain Carter, setahun sebelumnya, mantan Presiden Bill Clinton juga melakukan misi yang sama ke Pyongyang dan membawa pulang dua wartawan AS yang ditahan Korea Utara.

Di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65, 17 Agustus 2010, petugas Kementerian Luar Negeri RI membawa pulang tiga pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau yang ditahan Polisi Diraja Malaysia sejak 13 Agustus 2010. Mereka ditangkap saat bertugas dan menciduk tujuh nelayan Malaysia yang mencuri iklan di wilayah perairan Indonesia. Polisi Diraja Malaysia memburu kapal patroli DKP yang membawa ketujuh nelayan pelanggar itu. Polisi Malaysia meminta barter atas penangkapan nelayan Malaysia dengan membawa tiga petugas DKP dan ditahan.

Berbeda dengan sambutan warga AS terhadap Carter, rakyat Indonesia justru kecewa dengan sikap pemerintah Indonesia meski berhasil “membebaskan” tiga pegawai DKP yang ditangkap Malaysia. Kekecewaan bertambah ketika disinyalir pembebasan itu merupakan “barter” dengan dilepasnya tujuh nelayan Malaysia yang melanggar wilayah perbatasan tersebut. Kalangan DPR sempat mempertanyakan persoalan “barter” ini dalam rapat kerja dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa. Menlu menepis itu sebagai barter.

Rakyat Marah

Sebagian masyarakat Indonesia marah atas insiden penangkapan warga RI oleh Malaysia di perairan Indonesia tersebut. Kemarahan memuncak ketika pemerintah Indonesia tidak bersikap tegas terhadap Malaysia.

Sementara sebaliknya, pemerintah Malaysia, melalui Menteri Luar Negerinya, mengeluarkan peryataan-pernyataan pedas. Malaysia mengingatkan Indonesia akan memberlakukan travel advisory bagi warganya. Malaysia juga menekan pemerintah Indonesia untuk menghentikan gerakan protes masyarakat RI. Tak hanya itu, ia juga mengingatkan media-media di Indonesia yang dinilainya memprovokasi.

Banyak warga Indonesia berdemonstrasi baik di depan Kedutaan Malaysia di Jakarta maupun di sejumlah daerah lain. Mereka membakar dan merusak bendera Malaysia, bahkan ada yang melemparkan (maaf) kotoran. Gerakan demonstrasi terus bergulir dan semakin luas.

Mengapa rakyat marah? Faktor utama kemarahan rakyat adalah tidak jelasnya sikap pemerintah Indonesia. Baik Presiden maupun Menteri Luar Negeri RI terkesan ragu dalam bersikap. Meski akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, namun rakyat tampaknya menganggap surat saja tidak cukup.

Masyarakat berharap pemerintah bersikap tegas dan berani mengingatkan Malaysia atas perilaku penangkapan warga Indonesia tersebut. Apalagi, provokasi Malaysia terhadap Indonesia itu sering terjadi, seperti patroli armada Malaysia di kawasan Blok Ambalat dan sejumlah perlakukan buruk terhadap TKI di negeri itu. Sejak kasus Simpadan Ligitan yang dimenangkan Malaysia, negeri Jiran itu tampak sangat berani untuk mengklaim sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Indonesia.

Bahwa wilayah perbatasan tempat ditangkapnya tiga petugas DKP di perairan Kepulauan Kepri itu sedang disengketakan oleh Malaysia, ini bukan berarti pemerintah Indonesia harus tidak bersikap tegas. Pasalnya, sengketa wilayah perairan ini sudah dibahas sejak lama, dan sebelum ada keputusan final yang baru, wilayah tersebut tetap merupakan wilayah Indonesia.

Pemerintah, setidaknya dapat bersikap tegas atas perlakuan Polisi Diraja Malaysia terhadap para petugas DKP yang diburu, ditangkap, dan diperlakukan sebagai tahanan, dan tetap memproses nelayan Malaysia yang melanggar perbatasan tersebut. Apalagi masih ada kasus sebelumnya yang belum diselesaikan pemerintah Indonesia, saat Polisi Diraja Malaysia menangkap enan nelayan Indonesia asal Langkat, Sumatera Utara, yang sedang mencari ikan di perairan Indonesia beberapa bulan lalu, dan hingga kini masih ditahan di penjara Keddah, Malaysia.

Seni Diplomasi

Sikap dalam penanganan pemerintah Indonesia terhadap insiden “13 Agustus” menunjukkan kelemahan diplomasi Indonesia. Pemerintah tampaknya tidak memiliki kepercayaan diri untuk bersikap dan bernegosiasi dengan posisi tawar yang kuat dengan Malaysia, negeri kecil yang bahkan sempat akan “diakuisi” semasa pemerintahan Soekarno dulu yang dikenal dengan perintahnya “Ganyang Malaysia”.

Diplomasi adalah seni dan praktek bernegosiasi. Dibilang seni, karena dalam diplomasi diterapkan strategi dan cara untuk mencapai tujuan diplomasi itu sendiri. Ada posisi tawar yang dimiliki, dan ada alternatif yang ditawarkan. Singkatnya, diplomasi adalah upaya untuk memperoleh keuntungan (pencapaian tujuan) dengan “permainan” kata-kata atau pendekatan pembicaraan.

Seni berdiplomasi tentu memiliki keindahan. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh diplomat yang memiliki kepiawaian berkomunikasi dan bernegosiasi. Ditambah lagi penguasaan materi yang menjadi permasalahan, serta mampu merancang solusi yang tepat dan menguntungkan.

Permainan kata-kata pada level berikutnya adalah psywar alias perang urat syaraf. Apa yang dilakukan Malaysia dengan mengancam penerapan travel advisory dan menekan pemerintah Indonesia untuk menghentikan protes masyarakat terhadap insiden tersebut, boleh dibilang sebagai psywar.

Bila saja pemerintah Indonesia bersikap tegas dan mampu berdiplomasi dengan baik, persoalan ini tidak akan berlarut-larut. Tidak perlu melibatkan masyarakat turun ke jalan berdemonstrasi dengan caranya sendiri. Aksi rakyat itu adalah ekspresi dari kekecewaan atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan pemerintah saat ini.

Apa yang dilakukan Jimmy Carter adalah contoh kesuksesan diplomasi. Bahkan ini merupakan keberhasilan diplomasi tingkat tinggi. Carter mampu menyelesaikan permasalahan untuk kepentingan AS justru di sarang utama musuh AS, Korea Utara.

Selama ini, AS yang menuduh dan mencitrakan kepada dunia bahwa Korea Utara sebagai negara berbahaya karena pengembang nuklir. AS pulalah yang mempengaruhi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan resolusi pemberian sanksi terhadap Korea Utara.

Tapi dengan seni diplomasi yang sangat baik yang dilakukan Carter, AS mampu “menaklukan” pemimpin Korea Utara Kim Jong Il, yang akhirnya mempersilakan Carter membawa warganya untuk kembali ke AS. Tentu ada negosiasi di dalamnya, tapi ini merupakan kemenangan diplomasi, kemenangan AS.

Andai kita memiliki pemimpin negara yang bersikap tegas dan mampu berdiplomasi dengan baik, tentu insinden Indonesia – Malaysia tidak akan berlarut-larut. Dan, masyarakat Indonesia akan menerimanya dengan baik, bahkan serentak mengacungkan jempolnya untuk pemimpin negara kita.

http://politik.kompasiana.com/2010/09/06/jimmy-carter-dan-diplomasi-indonesia-malaysia/

Selasa, 17 Agustus 2010

Negeri Tanpa Pemimpin

Catatan 65 Tahun Kemerdekaan Indonesia:



Kalau saja para pejuang negeri ini masih hidup, boleh jadi mereka menangis melihat perkembangan bangsa ini. Apa yang mereka korbankan: harta, darah, dan nyawa, selama puluhan dan ratusan tahun untuk kedaulatan Indonesia yang merdeka, seakan sia-sia.

Kedaulatan negara kini sudah terkoyak. Persatuan bangsa mulai retak. Dan tujuan kemerdekaan untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera semakin jauh panggang dari api.

Coba lihat masyarakat kita. Meski pemerintah mengklaim indikator-indikator ekonomi dan kesejahteraan mengalami banyak perbaikan, namun realitanya justru kemiskinan semakin memenjara mereka.

Angka-angka penurunan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang dipublikasikan selama ini seakan-akan hanya sekadar angka matematika dari hasil simulasi di atas kertas, dengan rasio dan asumsi yang bisa ditentukan hasilnya ingin seperti apa. Mau dibuat jumlah penduduk miskin berkurang bisa, mau dibuat penduduk miskin bertambah bisa. Tinggal geser-geser garis kemiskinan dan mengubah indikator dan asumsi-asumsinya. Bukan dengan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Pendidikan gratis bagi anak usia SD dan SMP juga sekadar retorika belaka. Pemerintah memang mengalokasikan dana cukup besar untuk sektor pendidikan, sekitar 20 persen dari APBN pada 2010, atau senilai Rp 220 triliun. Namun, kenyataanya masih banyak anak yang tidak mampu bersekolah karena orang tuanya tidak sanggup membayar “itu ini” – dengan istilah sumbangan pendidikan atau pungutan yang beragam – yang ditetapkan sekolah.

Anggaran pendidikan itu tidak menetes seutuhnya ke masyarakat yang dituju. Padahal, bila dana Rp 220 triliun itu dibagikan saja kepada sekitar 40 juta rakyat Indonesia yang miskin, masing-masing akan menerima Rp 5,5 juta per orang. Atau bila dibagikan kepada keluarga miskin yang sekitar 12 juta jiwa, maka masing-masing keluarga akan memperoleh dana hampir Rp 20 juta rupiah. Otomatis dengan pendapatan sebesar itu, si miskin bakal lolos dari garis kemiskinan dan akan mampu menyekolahkan anak-anaknya dan hidup yang layak.

Di bidang ekonomi, sangat memprihatinkan. Kekayaan alam negeri ini sebagian sudah digadai ke asing. Korporasi-korporasi asing menguasai sumber-sumber alam, seperti minyak, emas, tembaga, batubara, bahkan air. Dengan dalih mereka membawa teknologi tinggi dan investasi, pemerintah negeri ini cukup senang hanya memperoleh royalti sebesar lima atau sepuluh persen dari hasil yang diperoleh perusahaan-perusahaan asing tersebut. Dan mengherankan , kehadiran perusahaan asing itu dibanggakan pemerintah sebagai indikator kuatnya kepercayaan asing terhadap Indonesia.

Realita yang ironis ini juga terjadi di sektor keuangan. Hampir seluruh bank besar di Indonesia dikuasai asing. Bank-bank swasta yang pada krisis finansial 1998 lalu ambruk dan disuntik negara hampir Rp 900 triliun, diobral murah kepada asing, dan kini menjadi milik mereka.

Sektor perdagangan juga sama. Pemerintah dengan bangga dan senang membuka selebar-lebarnya untuk produk asing dengan bendera globalisasi perdagangan. Sementara produk dalam negeri tergerus oleh produk asing yang seringkali memberikan harga murah karena disubsidi oleh pemerintah negara mereka.

Perusahaan lokal, UKM, apalagi usaha mikro dibiarkan, bahkan mungkin dikondisikan, tergusur dan mati. Pasar-pasar tradisional merana, terpental pasar modern yang “super” dan “hyper”, seperti Carefur, Giant, Hypermart, dan lainnya. Warung-warung rumahan juga mati lantaran pemerintah dengan mudahnya mengijinkan minimarket yang kini masuk ke pemukiman-pemukiman.

Pemerintah tampaknya senang rakyatnya hanya sekadar menjadi konsumen. Apalagi pemerintah berdalih konsumsi masyarakat juga menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Tak peduli sebagian besar yang dikonsumsi itu adalah barang-barang asing, yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri bila pemerintah memiliki political will mendukung usaha lokal, UKM, dan usaha mikro.

Lebih parah lagi kedaulatan negara dan pertahanan negeri yang dipermainkan bangsa lain. Militer kita, sejak belasan tahun dikebiri negeri Adidaya, polisi dunia, dengan mengusung isu hak asasi manusia (HAM). Indonesia sebagai negeri yang berdaulat, “dilarang” memiliki militer yang kuat. Negeri itu memboikot bangsa ini untuk melengkapi alat-alat perangnya. Bahkan perangkat perang yang dibeli dari mereka pun, seperti pesawat tempur F-16, kemudian tidak diperbolehkan untuk mendapatkan suku cadangnya. Maka, satu per satu pesawat tempur itu jatuh saat latihan dan menewaskan putra-putra terbaik bangsa ini yang mengemudikannya.

Bukan hanya pesawat, perlengkapan militer lainnya juga minim. Anehnya pemerintah “nunut” saja pada tekanan asing, sampai-sampai anggaran untuk pertahanan pun – khususnya pengadaan alat-alat pertahanan (alusista) – terus menciut. Jadinya, militer kita menjadi “macan ompong” yang berusaha tampil gagah dengan senjata tua dan terbatas.

Maka, ketika negeri kecil dari jiran mempermainkan kita dengan show of force menembaki orang Indonesia di wilayah laut Indonesia, atau mengklaim pulau dan perbatasan, pemerintah Republik Indonesia hanya bisa berucap dengan santun dengan tatapan mata tertunduk -- kalo tidak ingin dibilang tidak percaya diri – dan bilang “mari kita bicarakan melalui jalur diplomasi”. Bisa-bisa moncong senjata negeri lain sudah di depan Istana Negara pun hanya bisa berucap “sabar… kita diskusi ya!” Menyedihkan.

Di sisi lain persatuan bangsa ini juga mulai retak. Bila menonton televisi atau membaca berita, hampir setiap hari terjadi sejumlah bentrokan massa, kerusuhan, perkehalian. Persoalannya macam-macam, mulai dari masalah pemilihan kepala daerah, sengketa tanah, perkelahian mahasiswa, hingga masalah perbedaan agama.

Pemerintah dan aparat keamanan – khususnya polisi – tampak diam saja. Sejumlah pelaku kerusuhan, pembakar kendaraan, perusak rumah warga dan fasilitas publk – baik yang menamakan dirinya kelompok /pendukung pihak tertentu atau organisasi massa (ormas) – dibiarkan saja. Kalo pun ada yang diproses hukum, hanya kroco-kroco-nya. Sementara petingginya tak tersentuh. Tak ada efek jera bagi mereka, dan terus mengulang begitu.

Masih banyak realita dan peristiwa yang membuat kita miris, prihatin, dan memilukan. Justru semua terjadi ketika Indonesia sudah berusia dewasa, 65 tahun. Ironisnya, kondisi ini semakin parah sejak pasca gerakan reformasi tahun 1998. Sudah berganti empat presiden, situasi masih belum bisa diatasi dan kecenderungannya semakin memburuk.

Mengapa semua itu terjadi? Persoalannya sebenarnya hanya satu hal. Saat ini kita tidak memiliki pemimpin. Kita memang punya presiden dipilih rakyat, punya wakil rakyat yang juga langsung dipilih rakyat, punya pimpinan lembaga tinggi negara, tapi kita tidak punya Pemimpin.

Negeri ini membutuhkan pemimpin yang memiliki visi dan leadership yang kuat. Bukan pemimpin yang cengeng. Bukan pemimpin yang hanya senang beretorika. Bukan pemimpin yang hanya mampu membuat “kesan” dengan citranya. Bukan pemimpin yang hanya ingin berfoto bersama – bahkan mengidolakan – pemimpin negara lain. Juga bukan pemimpin yang hanya berani menangkapi rakyatnya, sementara kepada negara lain yang berulah hanya bisa bilang “kita tempuh jalur dialog”.

Pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang berjuang untuk rakyatnya. Pemimpin yang mampu mewujudkan cita-cita para founding fathers dan harapan bangsa ini, mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera.

Dulu, dengan visi dan leadership yang kuat, para pahlawan kita mampu menumbangkan penjajah yang bersenjata lengkap, hanya dengan sebilah bambu runcing. Dengan visi dan leadership yang kuat, Bung Karno dan Bung Hatta bersama para tokoh pendiri negeri ini, mampu memproklamasikan negara merdeka dan mempersatukan bangsa Indonesia, dengan sejumlah keterbatasan saat itu.

Sekarang kita masih punya waktu. Pemimpin yang sudah mendapat amanah dari rakyat, saatnya untuk bekerja. Dengan visi yang jelas dan leadership yang kuat. Pemilihan Umum sudah lewat, bukan saatnya lagi beretorika, apalagi hanya sekadar menjaga citra. Mari bekerja, bekerja, bekerja… untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Bukan yang lain!

Dan para pejuang bangsa ini pun akan tersenyum.

http://politik.kompasiana.com/2010/08/17/negeri-tanpa-pemimpin-catatan-65-tahun-indonesia-merdeka/

Kamis, 29 April 2010

Nostalgia Parahyangan




Sejumlah gadis cantik berlengak-lengok di dalam kereta api yang sedang melaju, di tengah penuhnya penumpang. Para mojang Priangan itu, berjalan di koridor kabin kereta api, dengan kostum warna warni dengan beragam model. Sesekali mereka menengok kiri kanan, sesekali mereka tolak pinggang, dan melangkah kakinya dengan ayunan yang seakan berirama. Para penumpang menatapnya dengan antusias, senang, dan terhibur.

Itulah Fashion Show on The Train. Sebuah ajang peragaan busana yang digelar para gadis manis Kota Kembang. Pagelaran yang dengan memanfaatkan koridor penumpang sebagai catwalk, mengiringi maraknya factory outlet (FO) di Bandung. Dan pentas itu pun merupakan bagian dari promosi salah satu FO.

Begitulah salah satu suasana perjalanan Kereta Api (KA) Parahyangan dari Jakarta menuju Bandung pada sebuah akhir pekan beberapa tahun lalu. Suasana yang tak akan pernah ditemukan lagi.

Bukan karena gak ada lagi peragawati yang mau pentas di cat walk gerbong kereta, tapi lantara KA Parahyangan sudah tiada. Parahyangan meninggalkan kita…. KA Parahyangan sudah mati, sejak 27 April 2010. Manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan euthanasia terhadap KA Parahyangan pada usianya yang ke 39 tahun.

Banyak orang yang punya kenangan dengan KA Parahyangan. Wajar bila ada orang yang mengoleksi tiket KA Parahyangan sejak tahun 70an hingga perjalanan terakhirnya. Sebagian eksekutif dan profesional asal Bandung yang bekerja di Jakarta, atau sebaliknya punya kenangan dengan moda transportasi “kuda besi” ini.

Saya pribadi hampir rutin menggunakan KA Parahyangan setiap awal dan akhir pekan selama lima tahun dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya, sebelum saya bermukim di ibukota. Orang menyebutnya saya ini PJKA. Tapi, PJKA yang ini bukan sPerusahaan Jawatan Kereta Api – nama PT KAI sebelumnya – melainkan “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Jadi, memang banyak sekali para pekerja dan profesional yang PJKA saat ini.

Betapa KA Parahyangan menjadi pilihan penumpangnya, setiap Jumat sore mereka rela antri berjam-jam di Stasiun Gambir hanya menunggu giliran memperoleh tiket Parahyangan. Bisa satu jam, dua jam, bahkan sampai tiga jam atau lebih. Tapi, para penumpang tampak menikmatinya meski mereka harus sudah antri ketika loket belum dibuka.

Saya kadang-kadang malas untuk antri berlama-lama dan memilih membeli tiket berdiri (tanpa tempat duduk). Dengan berbekal koran sore yang dibeli di stasiun Gambir, saya – dan banyak penumpang -- bisa duduk di koridor KA Parahyangan, tempat yang sempat dipake catwalk para peragawati cantik di atas. Di sana saya bisa bertemu dengan beberapa kawan lama, bahkan eksekutif dan tokoh politik. Semua menikmatinya dengan sumringah, meski duduk beralaskan koran di KA Parahyangan.
Nah bila sekarang KA Parahyangan merugi – manajemennya berdalih – karena ditinggalkan penumpang karena memilih kendaraan travel seiring dibukanya jalur tol Jakarta Bandung (tol Jakarta –Cikampek dan tol Cipularang), sepenuhnya tidak benar. Karena sebenarnya masing-masing moda transportasi memiliki keunggulan dan nilai tambah masing-masing.

Semestinya KA Parahyangan kekurangan penumpang itu tidak terjadi, bila saja pengelola KA tersebut (KAI) melakukan berbagai inovasi untuk memberikan nilai tambah dan keunggulan lain bagi masyarakat yang hendak ke Bandung atau sebaliknya ke Jakarta. Kehadiran travel tidak bisa dihindari, tapi tidak bisa juga karena ada travel terus kereta api mati. Bagaimana kalo semua jalur tol sudah dibangun menghubungkan kota-kota besar di Jawa? Kalo begitu semua jalur kereta api akan mati. Padahal di banyak negara, semua moda transportasi tetap hidup dengan sejumlah kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Penumpang kereta banyak, penumpang mobil banyak, penumpang pesawat udara banyak, dan penumpang kapal laut juga banyak.

Manajemen KAI tidak cukup menghadapi pesaingan dengan travel hanya dengan menurunkan harga tiket KA Parahyangan. Karena bukan soal harga tiket murah yang menjadi penentu pilihan penumpang (buktinya harga tiket travel mencapai 60.000 – 70.000, dua kali lipat dari harga tiket KA Parahyangan). Tapi, yang lebih penting adalah kualitas pelayanan.

Semestinya PT KAI melakukan pelayanan yang lebih baik dan pembenahan manajemen perjalanan kereta, yang memang dirasakan mengalami penurunan kualitasnya. Misalnya, bila dulu perjalanan KA Parahyangan dari Gambir bisa sampai di Stasiun Hall Bandung dalam waktu 2.40 menit, belakangan justru membutuhkan waktu 3 jam. Jelas ini waktu yang sangat jauh perbedannya dengan perjalanan travel yang hanya memakan waktu 2,5 jam.

Yang juga penting adalah inovasi. Bila travel menggunakan strategi dengan mendekati para calon penumpang membuka pool di sentra-sentra bisnis dan sentra keramaian, semestinya PT KAI juga melakukan inovasi dengan mengembangkan sarana transportasi shuttle bus yang menjadi feeder dari satu titik tertentu ke stasiun. Untuk penyediaan shuttle bus dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga.

PT KAI juga misalnya dapat menambah layanan dengan fasilitas entertainment di KA, seperti menyediakan LCD home teather yang memutarkan film atau hiburan selama perjalanan KA. Atau bisa juga menyajikan live show di dalam kereta selama perjalanan akhir pekan misalnya. Atau bisa juga memberikan pertunjukan seni tradisional Sunda angklung yang melibatkan para penumpang KA selama perjalanan. Bisa juga membuat paket kerjasama dengan FO dan resto/café/hotel di Bandung dengan voucher diskon khusus bagi para penumpang KA Parahyangan. Atau bahkan membuka café khas Bandung di dalam kereta, atau membuka outlet FO di dalam kereta. Dan banyak lagi yang bisa dilakukan… sebenarnya.

Sekarang KA Parahyangan sudah tiada. Sebuah musibah besar bagi industri transportasi masal Indonesia yang sebenarnya sangat dibutuhkan di negeri ini. Tentu kita tidak ingin mendengar lagi kabar duka lainnya, kematinan KA-KA rute lainnya hanya karena dalih kalah bersaing. Jangan sampai, buruk manajemen justru kereta api yang dikorbankan.

Saya hanya bisa mengelus dada dan bersedih. Tentu, sedih tak bisa lagi menumpang KA Parahyangan bila pulang kampung ke Bandung. Dan, sedih lainnya, gak bisa lagi bertemu dengan peragawati cantik yang berlengak lengok di koridor gerbong kereta api!


http://umum.kompasiana.com/2010/04/29/nostalgia-parahyangan/

Sabtu, 30 Januari 2010

Janjimu... Pesonamu...

Dear sayang,
Hari ini, tepat 100 hari kita menjalin hubungan. Hubungan yg terbangun karena betapa mempesonanya kamu saat PDKT lalu.

Ketika itu, senyummu selalu tersungging di bibirmu… Betapa ramahnya kamu, selalu menyapa orang2 dengan lambaian tanganmu. Kamu juga care pada orang2 bawah. Kamu beri mereka sejumlah uang yg sangat bermanfaat untuk menyambung hidupnya, setidaknya bisa meringankan beban hidup mereka yg kurang beruntung, selama satu sampai tiga bulan…

Dengan tutur kata yg halus kamu ucapkan janji2mu. Kamu bilang, akan membahagiakanku. Kamu bilang akan mensejahterakanku. Kamu bilang akan membawaku menjadi org yg maju, bahkan dapat berperan di pentas dunia…

Duh… betapa senangnya aku. Aku teringat ketika lima tahun sebelumnya kamu menyanyikan lagu “ada bola di matamu”. Semua orang terpesona dan berdecak kagum padamu… karena suaramu, tutur katamu, senyummu, dan… hmn… kamu ganteng sayang…

Sayang, tak terasa hubungan kita kini sudah berjalan 100 hari. Entah mengapa, kok aku belum merasakan apa yg kamu janjikan ke aku dulu.

Aku yakin kamu masih ingat janji2 itu sayang… Janji2 yg sebenarnya lima tahun sebelumnya juga kamu sampaikan pada semua orang.

Aku ga tau apakah kamu sudah realisasikan janji2 itu? Tapi aku benar2 gak merasakannya. Apakah karena aku kurang peka, atau memang kamu belum melakukan apa2…

Sayang, kalo mau jujur sebenarnya aku sangat sakit hati ketika terkuak sejumlah masalah2 yg baik langsung maupun tidak langsung menyebut namamu. Misalnya, kasus si Markus, si Senturi, dll…

Aku ga tahu apa kamu benar2 berselingkuh dengan si Markus, si Senturi, atau lainnya?

Ya memang kamu bilang ke aku itu semua fitnah… Dengan mata berkaca2 dan mimik iba, kamu merasa menjadi korban fitnah. Kamu merasa ada yg menginginkan kamu jatuh. Kamu merasa ini ulah musuh2 kamu dulu…

Entahlah semua itu… Kamu tak perlu takut difitnah atau dijatuhkan sayang… Kalo kamu yakin benar dan tidak berselingkuh…

Lebih baik energi besar kamu gunakan untuk mengimplementasikan janji2 kamu. Bukankah kamu berjaji akan membahagiakan dan mensejahterakan aku?

Sayang, sekarang bukan lagi saatnya kamu tebar pesona terus. Bukan lagi sikap “jaim” kamu yg aku butuhkan. Bukan lagi gaya pencitraan kamu yg aku harapkan…

Aku hanya butuhkan satu hal sayang: kesetiaan kamu pada aku dengan membuktikan apa yg kamu ucapkan lalu, dengan karya2 nyata, sehingga aku bisa bahagia dan sejahtera…

Bila itu sudah kamu lakukan, kamu tak perlu takut sayang… Tak akan ada yg menjatuhkan kamu. Tak akan ada yag berusaha memisahkan aku dengan kamu… Kita akan selalu bersama, sampai waktu menjemputmu.

Sayang, meski selama 100 hari aku kecewa padamu, dengan sisa kepercayaanku dan harapanku aku masih akan memberikan kesempatan kamu… Gunakan kesempatan ini untuk merealisasikan janji2 kamu.

Lakukan ya sayang… Aku ga ingin lagi mendengar perselingkuhan2 baru kamu dengan sejumlah kasus ya…

Aku yakin kamu bisa, bila kamu gak hanya mengubar pesona dan citra…

Sayang, aku sangat berharap pada komitmen2 kamu dulu… Lakukan semuanya ya… Jangan sampai aku juga meninggalkan kamu seperti yang lainnya…

Aku menunggumu…
Kita bertemu setelah kamu merealisasikan janji2mu yahhhh…

Daaaahhhhhhh….!!!

http://www.facebook.com/guntursubagja?ref=profile#/notes/guntur-subagja-mahardika/janjimu-pesonamu/271022233206

http://polhukam.kompasiana.com/2010/01/29/janjimu-pesonamu/