Kamis, 29 April 2010

Nostalgia Parahyangan




Sejumlah gadis cantik berlengak-lengok di dalam kereta api yang sedang melaju, di tengah penuhnya penumpang. Para mojang Priangan itu, berjalan di koridor kabin kereta api, dengan kostum warna warni dengan beragam model. Sesekali mereka menengok kiri kanan, sesekali mereka tolak pinggang, dan melangkah kakinya dengan ayunan yang seakan berirama. Para penumpang menatapnya dengan antusias, senang, dan terhibur.

Itulah Fashion Show on The Train. Sebuah ajang peragaan busana yang digelar para gadis manis Kota Kembang. Pagelaran yang dengan memanfaatkan koridor penumpang sebagai catwalk, mengiringi maraknya factory outlet (FO) di Bandung. Dan pentas itu pun merupakan bagian dari promosi salah satu FO.

Begitulah salah satu suasana perjalanan Kereta Api (KA) Parahyangan dari Jakarta menuju Bandung pada sebuah akhir pekan beberapa tahun lalu. Suasana yang tak akan pernah ditemukan lagi.

Bukan karena gak ada lagi peragawati yang mau pentas di cat walk gerbong kereta, tapi lantara KA Parahyangan sudah tiada. Parahyangan meninggalkan kita…. KA Parahyangan sudah mati, sejak 27 April 2010. Manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan euthanasia terhadap KA Parahyangan pada usianya yang ke 39 tahun.

Banyak orang yang punya kenangan dengan KA Parahyangan. Wajar bila ada orang yang mengoleksi tiket KA Parahyangan sejak tahun 70an hingga perjalanan terakhirnya. Sebagian eksekutif dan profesional asal Bandung yang bekerja di Jakarta, atau sebaliknya punya kenangan dengan moda transportasi “kuda besi” ini.

Saya pribadi hampir rutin menggunakan KA Parahyangan setiap awal dan akhir pekan selama lima tahun dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya, sebelum saya bermukim di ibukota. Orang menyebutnya saya ini PJKA. Tapi, PJKA yang ini bukan sPerusahaan Jawatan Kereta Api – nama PT KAI sebelumnya – melainkan “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Jadi, memang banyak sekali para pekerja dan profesional yang PJKA saat ini.

Betapa KA Parahyangan menjadi pilihan penumpangnya, setiap Jumat sore mereka rela antri berjam-jam di Stasiun Gambir hanya menunggu giliran memperoleh tiket Parahyangan. Bisa satu jam, dua jam, bahkan sampai tiga jam atau lebih. Tapi, para penumpang tampak menikmatinya meski mereka harus sudah antri ketika loket belum dibuka.

Saya kadang-kadang malas untuk antri berlama-lama dan memilih membeli tiket berdiri (tanpa tempat duduk). Dengan berbekal koran sore yang dibeli di stasiun Gambir, saya – dan banyak penumpang -- bisa duduk di koridor KA Parahyangan, tempat yang sempat dipake catwalk para peragawati cantik di atas. Di sana saya bisa bertemu dengan beberapa kawan lama, bahkan eksekutif dan tokoh politik. Semua menikmatinya dengan sumringah, meski duduk beralaskan koran di KA Parahyangan.
Nah bila sekarang KA Parahyangan merugi – manajemennya berdalih – karena ditinggalkan penumpang karena memilih kendaraan travel seiring dibukanya jalur tol Jakarta Bandung (tol Jakarta –Cikampek dan tol Cipularang), sepenuhnya tidak benar. Karena sebenarnya masing-masing moda transportasi memiliki keunggulan dan nilai tambah masing-masing.

Semestinya KA Parahyangan kekurangan penumpang itu tidak terjadi, bila saja pengelola KA tersebut (KAI) melakukan berbagai inovasi untuk memberikan nilai tambah dan keunggulan lain bagi masyarakat yang hendak ke Bandung atau sebaliknya ke Jakarta. Kehadiran travel tidak bisa dihindari, tapi tidak bisa juga karena ada travel terus kereta api mati. Bagaimana kalo semua jalur tol sudah dibangun menghubungkan kota-kota besar di Jawa? Kalo begitu semua jalur kereta api akan mati. Padahal di banyak negara, semua moda transportasi tetap hidup dengan sejumlah kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Penumpang kereta banyak, penumpang mobil banyak, penumpang pesawat udara banyak, dan penumpang kapal laut juga banyak.

Manajemen KAI tidak cukup menghadapi pesaingan dengan travel hanya dengan menurunkan harga tiket KA Parahyangan. Karena bukan soal harga tiket murah yang menjadi penentu pilihan penumpang (buktinya harga tiket travel mencapai 60.000 – 70.000, dua kali lipat dari harga tiket KA Parahyangan). Tapi, yang lebih penting adalah kualitas pelayanan.

Semestinya PT KAI melakukan pelayanan yang lebih baik dan pembenahan manajemen perjalanan kereta, yang memang dirasakan mengalami penurunan kualitasnya. Misalnya, bila dulu perjalanan KA Parahyangan dari Gambir bisa sampai di Stasiun Hall Bandung dalam waktu 2.40 menit, belakangan justru membutuhkan waktu 3 jam. Jelas ini waktu yang sangat jauh perbedannya dengan perjalanan travel yang hanya memakan waktu 2,5 jam.

Yang juga penting adalah inovasi. Bila travel menggunakan strategi dengan mendekati para calon penumpang membuka pool di sentra-sentra bisnis dan sentra keramaian, semestinya PT KAI juga melakukan inovasi dengan mengembangkan sarana transportasi shuttle bus yang menjadi feeder dari satu titik tertentu ke stasiun. Untuk penyediaan shuttle bus dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga.

PT KAI juga misalnya dapat menambah layanan dengan fasilitas entertainment di KA, seperti menyediakan LCD home teather yang memutarkan film atau hiburan selama perjalanan KA. Atau bisa juga menyajikan live show di dalam kereta selama perjalanan akhir pekan misalnya. Atau bisa juga memberikan pertunjukan seni tradisional Sunda angklung yang melibatkan para penumpang KA selama perjalanan. Bisa juga membuat paket kerjasama dengan FO dan resto/café/hotel di Bandung dengan voucher diskon khusus bagi para penumpang KA Parahyangan. Atau bahkan membuka café khas Bandung di dalam kereta, atau membuka outlet FO di dalam kereta. Dan banyak lagi yang bisa dilakukan… sebenarnya.

Sekarang KA Parahyangan sudah tiada. Sebuah musibah besar bagi industri transportasi masal Indonesia yang sebenarnya sangat dibutuhkan di negeri ini. Tentu kita tidak ingin mendengar lagi kabar duka lainnya, kematinan KA-KA rute lainnya hanya karena dalih kalah bersaing. Jangan sampai, buruk manajemen justru kereta api yang dikorbankan.

Saya hanya bisa mengelus dada dan bersedih. Tentu, sedih tak bisa lagi menumpang KA Parahyangan bila pulang kampung ke Bandung. Dan, sedih lainnya, gak bisa lagi bertemu dengan peragawati cantik yang berlengak lengok di koridor gerbong kereta api!


http://umum.kompasiana.com/2010/04/29/nostalgia-parahyangan/

Tidak ada komentar: