Dear sayang,
Hari ini, tepat 100 hari kita menjalin hubungan. Hubungan yg terbangun karena betapa mempesonanya kamu saat PDKT lalu.
Ketika itu, senyummu selalu tersungging di bibirmu… Betapa ramahnya kamu, selalu menyapa orang2 dengan lambaian tanganmu. Kamu juga care pada orang2 bawah. Kamu beri mereka sejumlah uang yg sangat bermanfaat untuk menyambung hidupnya, setidaknya bisa meringankan beban hidup mereka yg kurang beruntung, selama satu sampai tiga bulan…
Dengan tutur kata yg halus kamu ucapkan janji2mu. Kamu bilang, akan membahagiakanku. Kamu bilang akan mensejahterakanku. Kamu bilang akan membawaku menjadi org yg maju, bahkan dapat berperan di pentas dunia…
Duh… betapa senangnya aku. Aku teringat ketika lima tahun sebelumnya kamu menyanyikan lagu “ada bola di matamu”. Semua orang terpesona dan berdecak kagum padamu… karena suaramu, tutur katamu, senyummu, dan… hmn… kamu ganteng sayang…
Sayang, tak terasa hubungan kita kini sudah berjalan 100 hari. Entah mengapa, kok aku belum merasakan apa yg kamu janjikan ke aku dulu.
Aku yakin kamu masih ingat janji2 itu sayang… Janji2 yg sebenarnya lima tahun sebelumnya juga kamu sampaikan pada semua orang.
Aku ga tau apakah kamu sudah realisasikan janji2 itu? Tapi aku benar2 gak merasakannya. Apakah karena aku kurang peka, atau memang kamu belum melakukan apa2…
Sayang, kalo mau jujur sebenarnya aku sangat sakit hati ketika terkuak sejumlah masalah2 yg baik langsung maupun tidak langsung menyebut namamu. Misalnya, kasus si Markus, si Senturi, dll…
Aku ga tahu apa kamu benar2 berselingkuh dengan si Markus, si Senturi, atau lainnya?
Ya memang kamu bilang ke aku itu semua fitnah… Dengan mata berkaca2 dan mimik iba, kamu merasa menjadi korban fitnah. Kamu merasa ada yg menginginkan kamu jatuh. Kamu merasa ini ulah musuh2 kamu dulu…
Entahlah semua itu… Kamu tak perlu takut difitnah atau dijatuhkan sayang… Kalo kamu yakin benar dan tidak berselingkuh…
Lebih baik energi besar kamu gunakan untuk mengimplementasikan janji2 kamu. Bukankah kamu berjaji akan membahagiakan dan mensejahterakan aku?
Sayang, sekarang bukan lagi saatnya kamu tebar pesona terus. Bukan lagi sikap “jaim” kamu yg aku butuhkan. Bukan lagi gaya pencitraan kamu yg aku harapkan…
Aku hanya butuhkan satu hal sayang: kesetiaan kamu pada aku dengan membuktikan apa yg kamu ucapkan lalu, dengan karya2 nyata, sehingga aku bisa bahagia dan sejahtera…
Bila itu sudah kamu lakukan, kamu tak perlu takut sayang… Tak akan ada yg menjatuhkan kamu. Tak akan ada yag berusaha memisahkan aku dengan kamu… Kita akan selalu bersama, sampai waktu menjemputmu.
Sayang, meski selama 100 hari aku kecewa padamu, dengan sisa kepercayaanku dan harapanku aku masih akan memberikan kesempatan kamu… Gunakan kesempatan ini untuk merealisasikan janji2 kamu.
Lakukan ya sayang… Aku ga ingin lagi mendengar perselingkuhan2 baru kamu dengan sejumlah kasus ya…
Aku yakin kamu bisa, bila kamu gak hanya mengubar pesona dan citra…
Sayang, aku sangat berharap pada komitmen2 kamu dulu… Lakukan semuanya ya… Jangan sampai aku juga meninggalkan kamu seperti yang lainnya…
Aku menunggumu…
Kita bertemu setelah kamu merealisasikan janji2mu yahhhh…
Daaaahhhhhhh….!!!
http://www.facebook.com/guntursubagja?ref=profile#/notes/guntur-subagja-mahardika/janjimu-pesonamu/271022233206
http://polhukam.kompasiana.com/2010/01/29/janjimu-pesonamu/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar