Jumat, 20 Februari 2009

Facebook versus Ponari 2.0


Beberapa hari lalu, saya membaca update status salah seorang sahabat di Facebook. ”Gila, gw facebook-an dari jam tujuh pagi”. Status itu diposting sekitar pukul delapan malam. Artinya, dia sudah online selama 13 jam. Dan, saat posting itu muncul di halaman publik, dia masih tetap online.

Saya tersenyum membaca statusnya. Tapi, tidak memberikan komen apapun. Apalagi, hari itu akhir pekan, saya juga sedang online Facebook sudah lebih dari lima jam. Seperti tidak ada gawean, 300 menit itu saya chatting, baca-baca notes, baca status teman-teman, mengirim pesan, dan add beberapa teman. Tanpa beranjak dari tempat duduk.

Seringkali memang mengaktifkan facebook lebih dari delapan jam sehari. Namun, tidak selama waktu itu beraktivitas Facebook. Hanya sesekali saja mengecek status kawan-kawan atau membalas pesan di wall, di sela-sela rutinitas kerja.

Saya dan kawan saya, mungkin hanya dua dari sekian juta orang yang bertingkah sama. Boleh jadi, sahabat yang lain lebih dahsyat dari itu. Buktinya, jam berapa pun saya buka Facebook (termasuk malam hari, dinihari, atau menjelang ayam berkokok) selalu bertemu kawan yang sedang online. Inilah fenomena yang tengah terjadi di jagad maya ini.

Bila saya pernah bilang bahwa facebook adalah istri kedua setelah handphone, bisa jadi sahabat lain menjadikan facebook sebagai ’soul mate’ nya, yang sudah menyatu dengan jiwanya. Situs jejaring sosial ini membuat orang menjadi nyandu. Mungkin melebihi seseorang mencandui rokok.

Fenomena itu pula, yang menurut kawan saya yang tinggal di Amrik, membuat sejumlah perusahaan AS melarang dan membatasi akses facebook bagi karyawannya. Bahkan sejumlah orang yang nyandu facebook pada jam kerjanya dipecat. Ini membuat banyak karyawan AS ketakutan membuka facebook di kantornya, apalagi saat ini warga Paman Sam itu sedang dilanda rasa takut kehilangan pekerjaan saking banyaknya PHK di sana. Betapa hantu layoff sangat menakutkan, ada karyawan yang punya jatah cuti tidak diambilnya lantaran takut saat kembali masuk kerja tak punya lagi kursi dan meja alias diberhentikan.

Kembali ke facebook, tidak bisa dipungkiri situs jejaring sosial ini memang sangat dahsyat. Pertumbuhan penggunanya melebihi pertumbuhan situs-situs terdahsyat lainnya seperti Google dan Yahoo!, Dalam dua pekan di bulan Februari 2009, misalnya, terdapat 25 juta member baru, sehingga jumlah warga Facebook mencapai 175 juta. Bila dirata-ratakan, dalam usianya yang masih balita, facebook mampu menyedot hati 40 juta orang per tahun. Posisi facebook kabarnya sudah mengalahkan MySpace, situs jejaring sosial terpopuler yang hadir lebih dahulu.

Nah, di tengah banyak kalangan sedang kecanduan facebook, di segmen lain juga ribuan orang sedang terhipnotis oleh kesaktian dukun cilik Ponari yang bermukim di pelosok desa di Jombang. Anak berusia 10 tahun itu diyakini banyak orang dapat menyembuhkan beragam penyakit. Pengobatannya simpel, hanya dengan mencelupkan batu saktinya di air yang kemudian diminum oleh pasennya. Konon, sejumlah orang sembuh setelah meminum celupan Ponari itu. Ribuan orang rela antri, bahkan beberapa diantaranya harus meninap berhari-hari, untuk mendapatkan pengobatan dari dukun cilik yang berpenghasilan mencapai 50 juta per hari itu. Betapa banyak dan padatnya pengunjung, tak terhindarkan beberapa orang tewas lantaran kelelahan atau berdesakan dalam antrian.

Lho kok jadi mengulas Ponari? Apa hubungannya dengan Facebook? Justru inilah yang menarik dicermati. Boleh setuju atau tidak, saya melihat ada ’kesamaan’ antara facebook dengan Ponari. Lho?

Facebook dan Ponari keduanya memiliki daya sihir yang kuat. Facebook dan Ponari mesugesti dan menghipnotis banyak orang sehingga meyakini (atau dalam konteks Facebook kecanduan). Facebook dan Ponari kerap memberikan harapan dan membuat orang bahagia. Facebook dan Ponari juga menjadi obat penat akibat kondisi ekonomi dan politik nasional saat ini yang semakin tidak menentu.

Dan, ini yang paling penting dan harus disadari para Facebook-er, bahwa Facebook dan Ponari kerap kali menjadikan perilaku banyak orang tidak rasional.

Coba, ngapain lebih dari setengah hari online memelototi Facebook? Ngapain juga bangun tidur – bukannya terus mandi -- malah langsung online Facebook. Di jalan update Facebook. Sampai kantor buka facebook lagi. Jam istirahat cek facebook maning. Mau pulang kantor lihat Facebook deui. Mau tidur juga Mesbuk lagi. Bahkan mimpi pun serasa sedang chatting.... hahaha.

Tapi tidak perlu khawatir. Bukan hanya Anda yang begitu, melainkan banyak orang berpolah sama. Termasuk saya salah satunya....hehehe.

Jadi, sebenarnya Facebook adalah Ponari 2.0.

Jumat, 13 Februari 2009

Bila Facebook Masuk Surga


Guntur Subagja
Praktisi Media & Komunikasi Strategis

Saya patut berterimakasih pada Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Melalui situs jejaring sosial yang didirikannya pada 4 Februari 2004 ini, saya menemukan kembali sahabat-sahabat lama yang sudah sekian tahun kehilangan kontak. Dan juga mendapat anugrah sahabat-sahabat baru dari beragam penjuru bumi.

Betapa gembiranya ketika bertemu kembali dengan sahabat bermain sewaktu kecil, sahabat saat sekolah, sahabat di tempat kerja, mantan tempat kerja, dan mitra kerja saat ini. Lewat FB, kadang kami ’bernostalgia’. Seringkali juga saling ’mengejek’ masa kecil dan masa culun kami (hehehe...). Sahabat saya itu sudah tersebar di mana-mana. Ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan beberapa di luar negeri.

Beberapa sahabat lama dari luar juga berjumpa kembali melalui jagat maya ini. Senang sekali saat bertemu kembali sahabat lama dari India, Mexico, Filipina, Korea, China, dan Australia. Dan sedang mencari beberapa sahabat lama lainnya, diantaranya dari Rusia, Polandia, Vietnam, Thailand, dan Brazil. Sahabat dari Brazil sudah diperoleh kabar menjadi staf di kementrian informasi di negaranya. Namun belum sempat berjumpa di FB.

Dan, tidak luput juga ajang silaturahmi virtual ini mempertemukan kembali saya dengan para mantan teman dekat sekali (hehehe....) yang kini tetap menjadi sahabat, meski beberapa diantaranya hanya melalui jagat maya. Dalam hal ini tentu ’dihindari’ untuk bernostalgia... meski kadang-kadang ’bobol’ juga...hahaha. Biarlah sweet memories menjadi tetap manis untuk dikenang.

Melalui FB, pertemanan menjadi tidak ada batas. Kita dengan mudah dapat berteman dan bersahabat dengan pejabat negara, presiden, calon presiden, gubernur, wakil gubernur, anggota parlemen, caleg, politisi, pakar, artis, dll... tanpa harus melalui prosedur protokoler, lewat ajudan, juru bicara, atau manajernya.

Lebih dari itu, saya mendapatkan anugerah sahabat-sahabat baru yang sebelumnya sama sekali tidak kenal. Senang, teman semakin banyak, jaringan kian luas.Terimakasih sahabat-sahabat yang sudah meng-add-saya, dan terimakasih juga pada sahabat yg meng’confirm’ friend request saya.

Sebenarnya saya termasuk ’jadul’ alias terlambat menjadi member FB. Kalo gak salah, baru bulan Oktober or November 2008. Tapi saya langsung jatuh cinta karena merasakan dahsyatnya FB. Dalam tiga bulan saya mendapatkan 400 lebih sahabat. Meski jumlah ini mungkin kecil dibandingkan kawan-kawan lain yg sudah ribuan sahabatnya, tapi sangat berarti bagi saya. Separo dari jumlah itu adalah sahabat lama yang ditemukan kembali. Dan sebagiannya lagi adalah sahabat baru. Tentu, ingin terus menambah sahabat.... hingga facebook menolaknya (hahahah....)

Bagi saya, FB adalah istri kedua, setelah istri pertama yang menemani dengan setia selama tiga belas tahun: handphone. Setiap sempat, saya menengoknya dan menyentuhnya. Tak peduli sedang sibuk bekerja, sedang di jalan, sedang makan, meeting, atau jalan-jalan.

Banyak manfaaf dari FB. Beberapa kawan memperoleh klien, proyek, dan customer melalui FB. Sebagian sahabat lagi mendapatkan jodoh, pacar, dan akur lagi dengan pacarnya lewat situs jejaring sosial ini. Ada juga suami istri yang hendak bercerai, rujuk setelah suaminya mengirimi gift bunga dan hati melalui FB.

Namun, tak dipungkiri juga, tidak sedikit juga yang bermasalah akibat FB. Ada istri yang menggugat cerai suaminya lantaran melihat friends list FB suaminya yang sebagian para wanita cantik dan muda. Ada juga ibu yang mengabaikan anaknya bermain sendiri karena keasyikan chatting dengan teman lamanya. Ada juga pasangan yang memutuskan pacarnya lantaran teman chattingnya lebih mengasyikkan. Dan konon banyak juga yang berselingkuh melalui FB. Tampaknya yg terakhir ini salah menangkap misi FB bukan sebagai ajang silaturahmi, tapi menjadi ajang ’selingkuhi’ (hahahaha....).

Kita lihat saja sisi positifnya FB. Kalo ada hal negatif, anggap saja itu hanya ekses atau lantaran ’penyalahgunaan’ fungsi FB.

Hal paling bermanfaat dari FB telah memfasilitasi kita untuk menjalin dan membangun silaturahmi. FB juga menjadi tempat belajar dan menambah wawasan, karena banyak yang sharing tentang banyak hal. FB pun menjadi sarana untuk mendukung aktivitas kita sehari-hari baik personal maupun pekerjaan, seperti komunikasi lewat chat, berbagi melalui foto,video, dan link, membangun komunitas melalui grup, memasarkan produk dan jasa pada pages yang tersedia, atau bahkan beriklan secara komersial membidik pasar yang besar.

FB telah berbagi, memberi, membantu, dan besedekah kepada satu juta orang pengguna dari Indonesia, dan lebih 40 juta pengguna di dunia. Data wikipedia, per Juli 2007 ada 34 juta anggota aktif FB. Dalam usianya yang masih balita, ia menjadi salah satu dari 10 situs yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Kalo saja Facebook itu manusia dan beragama, boleh jadi akan masuk surga.

Selamat ulang tahun ke-5 Facebook!