
Beberapa hari lalu, saya membaca update status salah seorang sahabat di Facebook. ”Gila, gw facebook-an dari jam tujuh pagi”. Status itu diposting sekitar pukul delapan malam. Artinya, dia sudah online selama 13 jam. Dan, saat posting itu muncul di halaman publik, dia masih tetap online.
Saya tersenyum membaca statusnya. Tapi, tidak memberikan komen apapun. Apalagi, hari itu akhir pekan, saya juga sedang online Facebook sudah lebih dari lima jam. Seperti tidak ada gawean, 300 menit itu saya chatting, baca-baca notes, baca status teman-teman, mengirim pesan, dan add beberapa teman. Tanpa beranjak dari tempat duduk.
Seringkali memang mengaktifkan facebook lebih dari delapan jam sehari. Namun, tidak selama waktu itu beraktivitas Facebook. Hanya sesekali saja mengecek status kawan-kawan atau membalas pesan di wall, di sela-sela rutinitas kerja.
Saya dan kawan saya, mungkin hanya dua dari sekian juta orang yang bertingkah sama. Boleh jadi, sahabat yang lain lebih dahsyat dari itu. Buktinya, jam berapa pun saya buka Facebook (termasuk malam hari, dinihari, atau menjelang ayam berkokok) selalu bertemu kawan yang sedang online. Inilah fenomena yang tengah terjadi di jagad maya ini.
Bila saya pernah bilang bahwa facebook adalah istri kedua setelah handphone, bisa jadi sahabat lain menjadikan facebook sebagai ’soul mate’ nya, yang sudah menyatu dengan jiwanya. Situs jejaring sosial ini membuat orang menjadi nyandu. Mungkin melebihi seseorang mencandui rokok.
Fenomena itu pula, yang menurut kawan saya yang tinggal di Amrik, membuat sejumlah perusahaan AS melarang dan membatasi akses facebook bagi karyawannya. Bahkan sejumlah orang yang nyandu facebook pada jam kerjanya dipecat. Ini membuat banyak karyawan AS ketakutan membuka facebook di kantornya, apalagi saat ini warga Paman Sam itu sedang dilanda rasa takut kehilangan pekerjaan saking banyaknya PHK di sana. Betapa hantu layoff sangat menakutkan, ada karyawan yang punya jatah cuti tidak diambilnya lantaran takut saat kembali masuk kerja tak punya lagi kursi dan meja alias diberhentikan.
Kembali ke facebook, tidak bisa dipungkiri situs jejaring sosial ini memang sangat dahsyat. Pertumbuhan penggunanya melebihi pertumbuhan situs-situs terdahsyat lainnya seperti Google dan Yahoo!, Dalam dua pekan di bulan Februari 2009, misalnya, terdapat 25 juta member baru, sehingga jumlah warga Facebook mencapai 175 juta. Bila dirata-ratakan, dalam usianya yang masih balita, facebook mampu menyedot hati 40 juta orang per tahun. Posisi facebook kabarnya sudah mengalahkan MySpace, situs jejaring sosial terpopuler yang hadir lebih dahulu.
Nah, di tengah banyak kalangan sedang kecanduan facebook, di segmen lain juga ribuan orang sedang terhipnotis oleh kesaktian dukun cilik Ponari yang bermukim di pelosok desa di Jombang. Anak berusia 10 tahun itu diyakini banyak orang dapat menyembuhkan beragam penyakit. Pengobatannya simpel, hanya dengan mencelupkan batu saktinya di air yang kemudian diminum oleh pasennya. Konon, sejumlah orang sembuh setelah meminum celupan Ponari itu. Ribuan orang rela antri, bahkan beberapa diantaranya harus meninap berhari-hari, untuk mendapatkan pengobatan dari dukun cilik yang berpenghasilan mencapai 50 juta per hari itu. Betapa banyak dan padatnya pengunjung, tak terhindarkan beberapa orang tewas lantaran kelelahan atau berdesakan dalam antrian.
Lho kok jadi mengulas Ponari? Apa hubungannya dengan Facebook? Justru inilah yang menarik dicermati. Boleh setuju atau tidak, saya melihat ada ’kesamaan’ antara facebook dengan Ponari. Lho?
Facebook dan Ponari keduanya memiliki daya sihir yang kuat. Facebook dan Ponari mesugesti dan menghipnotis banyak orang sehingga meyakini (atau dalam konteks Facebook kecanduan). Facebook dan Ponari kerap memberikan harapan dan membuat orang bahagia. Facebook dan Ponari juga menjadi obat penat akibat kondisi ekonomi dan politik nasional saat ini yang semakin tidak menentu.
Dan, ini yang paling penting dan harus disadari para Facebook-er, bahwa Facebook dan Ponari kerap kali menjadikan perilaku banyak orang tidak rasional.
Coba, ngapain lebih dari setengah hari online memelototi Facebook? Ngapain juga bangun tidur – bukannya terus mandi -- malah langsung online Facebook. Di jalan update Facebook. Sampai kantor buka facebook lagi. Jam istirahat cek facebook maning. Mau pulang kantor lihat Facebook deui. Mau tidur juga Mesbuk lagi. Bahkan mimpi pun serasa sedang chatting.... hahaha.
Tapi tidak perlu khawatir. Bukan hanya Anda yang begitu, melainkan banyak orang berpolah sama. Termasuk saya salah satunya....hehehe.
Jadi, sebenarnya Facebook adalah Ponari 2.0.
