
www.businessindoasia.com
Seorang eksekutif muda tampak tak sabar lagi menanti 8 Juli 2009. Maklum saja, hampir satu semester ini, ia terbilang tidak melakukan banyak hal. Meski usahanya tetap jalan, tapi tanpa ekspansi. Semua rencana pengembangan bisnisnya ditunda. Seiring dengan pasar yang semakin lesu, sang eksekutif memilih menahan diri: wait and see.
Sebenarnya, satu kekhawatirannya sudah terlewati. Pemilihan umum anggota legislatif – meski muncul riak karena semrawutnya penyelenggaraan pemilu – sudah terlewati, damai. Namun, ada satu lagi yang ditunggunya dan sangat menentukan langkah bisnisnya: pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Sempat dadanya sesak ketika adanya pecah kongsi antara presiden dan wakil presiden incumbent. Suhu politik kian memanas, dan peta koalisi pun berubah seratus delapan puluh derajat.
Sang eksekutif ini, sebenarnya tidak dalam posisi memihak kandidat calon presiden dan wakil presiden tertentu. Ia lebih menanti visi dan program yang akan dikerjakan pemimpin negara ke depan. Ia ingin bangsa ini dinakhodai orang yang mampu mengarungi ombak dan badai krisis ekonomi global yang tengah melanda. Perlu nakhoda yang piawai dan cepat bertindak disaat dihantam krisis.
Trauma krisis ekonomi sepuluh tahun lalu masih membekas di benak eksekutif tersebut. Indikator-indikator ekonomi yang dibanggakan – juga diakui IMF dan Bank Dunia – pada 1997 ternyata tak mampu menghadap krisis moneter, yang membuat negeri ini terjerembab dalam krisis berkepanjangan.
Baru saja bisa menarik nafas – setelah sepuluh tahun berjuang dari jebakan krisis – ancaman krisis yang lebih besar sudah di depan mata. Bila salah-salah mengelola dan mengantisipasinya, krisis kali ini bisa bakal lebih dahsyat, karena sumbernya di pusat kekuatan ekonomi dunia: Amerika, Eropa, dan negara-negara besar Asia.
Banyak negara sudah melakukan antisipasi untuk terhindar dari jeratan krisis yang lebih besar. Langkah yang dilakukan tidak hanya sekadar menambah cadangan devisa, memberikan stimulus fiskal, menyalurkan dana tunai kepada masyarakat, tapi lebih dari itu beberapa negara menyiapkan kebijakan ekonomi mendasar, bahkan mengarah kepada perubahan orientasi ekonomi, tidak lagi berbasis pada pertumbuhan yang semu, tetapi lebih menitikberatkan pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Tanda-tanda krisis sebenarnya sudah dirasakan Indonesia. Beberapa bank sudah ambruk, dan sejumlah perusahaan keuangan lainnya terseok. Sektor industri dan manufaktur juga sedang megap-megap, antara lain akibat menciutnya pasar ekspor dan menurunnya daya beli masyarakat domestik. Produksi dan jam kerja sudah dikurangi. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di depan mata. Sementara pemerintah tampak masih menerapkan kebijakan seperti penanganan krisis lalu, dengan pendekatan makro, populis, dan tidak menyentuh akar permasalahan krisis yang sesungguhnya.
Nah, pemilihan presiden diharapkan menjadi momentum untuk menerapkan kebijakan ekonomi baru. Ekonomi yang sesuai dengan tujuan kemerdekaan bangsa ini yang diamanahkan para founding fathers negeri ini: mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Bukan ekonomi yang terus tumbuh tapi hanya dinikmati sebagian kecil rakyat negeri ini.
Apa yang ada di benak eksekutif muda ini, juga asa sebagian besar rakyat Indonesia. Bangsa ini ingin pemimpin yang mampu mengoreksi kelemahan-kelemahan sistem ekonomi yang diterapkan selama ini, dan menyempurnakannya dengan kebijakan ekonomi yang baru.
Kalo boleh meniru iklan sebuah produk: Siapa pun presidennya, yang penting kebijakan ekonominya baru!.
Business IndoAsia Magazine, www.businessindoasia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar